Ester dan Peran Ilahi

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu IV Trinitatis,14 Juli 2019

Ester dan Peran Ilahi
(Ester 5:1-8)

     Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dari 66 Kitab dalam Alkitab (39 Kitab Perjanjian Lama dan 27 Kitab Perjanjian Baru), ada satu Kitab yang di dalamnya sama-sekali tidak menyebut nama Allah (TUHAN) secara khusus dan itulah yang membuatnya menjadi unik. Kitab apakah itu? Jawabnya adalah Kitab Ester. Apakah isi dan relevansi Kitab Ester dan siapa dia?
     Kitab Ester yang unik ini menceritakan bagaimana Ester, seorang perempuan cantik Yahudi yang kemudian menjadi istri raja Ahasyweros di Persia, dimampukan untuk mencegah rencana pembantaian atas bangsa Yahudi di kerajaan Persia pada zamannya. Ahasyweros, raja Persia menurunkan kedudukan istrinya, Wasti, karena tidak mau hadir pada pesta besar yang digelar raja. Kemudian Ester, gadis cantik Yahudi, adik sepupu Mordekhai, orang Yahudi, terpilih menggantikan Wasti. Mordekhai memberitahu Ester mengenai koalisi jahat dari Haman untuk membunuh raja. Kemudian Mordekhai menolak sujud/berlutut menghormati Haman, perdana menteri kesayangan raja. Karena itu Haman membenci Mordekhai. Setelah Haman mendapat ‘restu’ secara licik dari raja, maka diperintahkanlah untuk membantai semua orang Yahudi pada tanggal 13 bulan Adar (Ester 3:13). Tetapi Mordekhai memainkan perannya untuk menasehati ratu Ester agar memohon belas-kasih raja supaya petaka ini batal. Kemudian umat Yahudi berpuasa selama 3 hari dan mensyafaati bangsanya di hadapan raja. Ester kemudian mengundang raja Ahasyweros dan Haman ke suatu perjamuan. Pada perjamuan kedua – setelah raja mendesak tiga kali supaya menyampaikan permintaannya, akhirnya Ester mengungkap terkait persekongkolan Haman yang hendak membunuh dan membinasakan orang-orang Yahudi. Mendengar hal itu, raja menjadi sedih dan murka dan memerintahkan supaya Haman digantung di tiang gantungan yang tadinya ia persiapkan sendiri untuk menggantung Mordekhai. Karena maklumat raja untuk membantai orang Yahudi tidak boleh dicabut, maka raja mengeluarkan maklumat kedua yang mengijinkan orang-orang Yahudi untuk membela diri. Kesempatan itu pun diambil dan diisi oleh orang-orang Yahudi. Akhir cerita bahwa orang-orang Yahudi jadinya luput dari rencana pembantaian (genosida). Terkait kelepasan itu, umat Yahudi kemudian menetapkan Hari Raya Purim yang intinya memeringati dan menyukuri setiap tahun pemeliharaan TUHAN atas umat Yahudi yang mendapat keamanan, suka-cita, dan hari gembira pada zaman Ahasyweros di wilayah Persia (9:17-32). Demikianlah TUHAN Allah melaksanakan sebentuk karya pemeliharaan dan pembebasan-Nya yang mengherankan demi kebaikan umat melalui peran ratu Ester, Mordekhai, dan raja Ahasyweros.
     Ester – dalam kata Ibrani disebut ‘Hadasya’, yang arti namanya adalah ‘bintang’ - memang dia seorang ‘bintang lapangan’ yang ‘diijinkan’ oleh TUHAN secara langsung atau tidak langsung dalam rangka kebaikan dan kesejahteraan umat karena berhasil dan dimampukan bersama timnya untuk mencegah ‘persekongkolan jahat’ yang hendak menimpa umat-Nya.
     Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas dari Kitab Ester ini bagi kita dalam situasi kehidupan yang sarat kelicikan, kebencian, perpecahan, dan ancaman dalam kehidupan berjemaat, bermasyarakat, dan bernegara masa kini? Marilah kita: (a) Menyadari dan menggunakan peran (wibawa) dan talenta masing-masing secara benar, baik, dan tepat untuk merawat kebaikan dan perdamaian serta mencegah komplotan jahat yang dapat menimbulkan petaka dalam proses perjalanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara; (b) Meyakini pemeliharaan Allah secara berkelanjutan atas kehidupan umat-Nya dan makluk ciptaan (Providentia Dei). Karena sesungguhnya tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar (Yes. 59:1); (c) Menghayati Sabda Tuhan Yesus yang telah berjanji setia untuk menyertai kita dan umat-Nya bahkan sampai akhir segenap zaman (Mat. 28:20b). Salam bintang. *AAZS*

wajah web201903