Penyertaan-Nya Sangat Terbukti

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu Exaudi, 02 Juni 2019

Penyertaan-Nya Sangat Terbukti
(Daniel 3:21-29)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Ada banyak ‘hikayat suci’ yang menceritakan perihal penyertaan dan pertolongan TUHAN kepada para hamba-Nya dan orang-rang beriman - baik yang dicatat dalam Alkitab maupun dalam kitab sejarah Gereja Awal hingga sekarang. Bahkan mungkin masing-masing dari kita - barangkali punya ‘suatu pengalaman tersendiri’ atau pengalaman keluarga/gereja/masyarakat tentang bagaimana TUHAN menyertai dan menolong kita.
Saudara-saudari, ada tiga bahkan empat (sekawan) tokoh penting kaum muda di kalangan umat Allah dalam Perjanjian Lama yang punya pengalaman hebat semasa pembuangan di Babel. Mereka adalah Daniel (Beltsazar) – yang namanya berarti ‘Allah adalah Hakim-(ku)’; kemudian Sadrakh (Hananya), Mesakh (Misael), dan Abednego (Azarya). Daniel bersama rekannya berketetapan hati untuk setia beriman kepada Allah dan ‘tidak menajiskan dirinya’ di tengah melimpahnya santapan kerajaan nan lezat dan ‘kenikmatan lain’. Mereka lebih memilih sayur dan air putih dan hasilnya bahwa ‘perawakan mereka lebih baik’ serta sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang muda lain (Dan 1:8,15,20). Mengapa demikian? Karena belas-kasih TUHAN dan kesetiaan mereka beribadah kepada-Nya di tengah masyarakat Babel yang sarat penyembahan berhala pada waktu itu.
Pada zamannya, atas nama kekuasaan dan keyakinan (agama)-nya, raja Nebukadnezar memberi titah yang ‘memaksakan kehendak’ agar segenap umat di wilayah kerajaannya menyembah patung emas yang didirikan. Bila tidak, maka akan dilemparkan ke perapian yang menyala-nyala. Tetapi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih setia beribadah kepada TUHAN Yang Mahakuasa,, Pencipta langit-bumi, dengan berkata: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, tetapi seandainya tidak ….., kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas (Dan. 3:17-18). Dalam menghadapi masalah genting, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego setia menganut paham monoteisme sejati seturut Hukum Taurat dan tidak pragmatis atau opportunis. Dan risikonya, mereka akhirnya dilemparkan kedalam ‘perapian yang menyala-nyala’. Tetapi apa yang terjadi, sungguh mengejutkan! Malaikat TUHAN menyertai dan melindungi mereka dalam perapian sehingga tak terluka, tak terbakar bahkan rambut di kepala mereka tak hangus. Mereka selamat. Berkatalah raja Nebukadnezar: ‘Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh, dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hambaNya; tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian’ (Dan. 3:28-29). Di kemudian hari, raja Darius juga menetapkan titah yang melarang umat beribadah kepada TUHAN. Namun Daniel, sang negarawan yang dibenci itu, setia memilih dan menyembah hanya kepada TUHAN. Risikonya, Daniel kemudian dilemparkan ke gua singa-singa lapar. Tetapi penyertaan Allah sangat terbukti dengan mengutus malaikat-Nya mengatupkan mulut singa-singa. Daniel pun selamat. Setelah melihat peristiwa itu, raja mengeluarkan perintah agar orang harus takut dan gentar kepada Allah Daniel (Dan. 6:1-29). Raja Nebukadnezar dan Darius jadinya bertobat.
Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita sekarang? Dalam proses gumul, juang, dan jerih kehidupan berjemaat dan bermasyarakat masa kini, marilah kita: (a) Menomor-satukan Yesus Kristus yang telah berjanji menyertai kita sampai akhir zaman (Mat. 28:20b) dan mengandalkan penyertaan-Nya pada saat-saat penuh keraguan dan ketidak-pastian dalam kehidupan keluarga, gereja, dan bangsa Indonesia; (b) Menjauhi penyembahan berhala secara kuno yang menyembah patung/batu/pohon besar atau secara modern yang menyembah keserakahan yang tak pernah berkata cukup (Kol. 3:5; Amsal 30:15-16); (c) Menyatakan sikap harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia (Kis. 5:29; Why 2:10). Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form