HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu IV Trinitatis, 28 Juni 2015

Kasih Setia & Rahmat Tuhan

Tak Berkesudahan dan Tak Habis-habisnya ...

(Ratapan 3:22-33)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Nas renungan ini diacu dari Kitab Ratapan nabi Yeremia. Nabi ini tidak hanya bernubuat atau berkhotbah, tetapi juga seorang penulis dan peratap. Isi nubuat dan ratapannya erat kaitannya dengan penderitaan umat Allah (Yehuda) dan kebinasaan kota Yerusalem karena dosa dan pemberontakan mereka terhadap Allah. Dalam kitabnya, nabi Yeremia menyebut umat Allah sebagai “anak dara” atau ‘boru’, ‘na marbaju’ (Yer. 14:17; 18:13; Rat. 1:15; 2:13). Nabi Yeremia adalah salah seorang – kalau tidak dapat disebut satu-satunya – nabi/penulis PL yang menyaksikan secara langsung musibah yang menghancurkan kota dan penduduk Yerusalem tahun 586 BC. Dalam kaitan itulah, nabi Yeremia meratap dengan hebat dan menulis rangkaian ratapan yang isinya mengungkap kesedihan mendalam mengenai kehancuran Yerusalem dan pembuangan penduduknya ke Babel. Yeremia duduk sambil menangis meratapi Yerusalem. Yeremia adalah proto-tipe Yesus. Air mata nabi Yeremia mengingatkan kita tentang air mata Yesus yang menangisi dosa-dosa Yerusalem, di mana kemudian – kota Yerusalem – dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi (Mat. 23:37-38; Luk. 13:34-35; 19:41-44).

Dalam ratapannya, nabi Yeremia tidak hanya meratapi kehancuran umat dan kota, tetapi juga lebih dari itu mengungkap bahwa Allah benar dan adil dalam segala jalan-Nya dan bahwa Allah bermurah-hati serta berbelas-kasih kepada mereka yang berharap kepada-Nya. Dalam Kitab Ratapan ini terdapat suatu konfesi (pernyataan iman) yang amat kuat, yang menegaskan bahwa tidak berkesudahan kasih-setia TUHAN dan tidak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi (Rat. 3:22-23).Alkitab versi Batak Toba menerjemahkannya: Asiasi ni Jahowa sambing do umbahen so haru sun siap hami, ai ndang marpansohotan asi ni roha-Na i; mulak rata do i ganup sogot jala sai ro songon mata ni ari binsar (Andung 3:21-23). TUHAN adalah bagian kita dan sumber pengharapan, begitu ungkapan jiwa orang percaya; dan adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN (ayat 24-26).

Saudara-saudari, mengapa kasih setia TUHAN tak berkesudahan dan kenapa rahmat-Nya tak habis-habisnya, tetapi selalu baru tiap pagi? (ayat 31-33)? Jawabannya, antara lain, karena tidak untuk selamanya TUHAN mengucilkan (ayat 31); (b) Karena kendati Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya (ayat 32); (c) Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia (ayat 33). Dan TUHAN pernah bersabda:“... Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar, Aku mengambil engkau kembali. Dalam murka yang meluap, Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, Firman TUHAN Penebusmu (Yes. 54:7-8); Pemazmur mengungkap bahwa: “... sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi ada sorak-sorai” (Mzm. 30:6).

Ringkasnya, Alkitab mengungkap bahwa sesungguhnya tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi. Bahwa sesungguhnya kasih karunia TUHAN selalu cukup untuk segenap perkara hidup kita. Kasih setia dan rahmat Allah memuncak dalam peristiwa Yesus Kristus (Yoh 1:14; Ef. 1:6-7; Kel. 34:6-7; Mzm 36:8-10; Ef 2:7; Kol. 1:6; Ibr. 4:16; 2Kor 8:6-9; 2 Kor 12:9). Sejak peristiwa Yesus Kristus, dimulailah era belas-kasih, era kasih karunia yang berisi pengampunan dosa, pengharapan, dan pemberian hidup kekal. Inilah Kabar Gembira, Injil.

Saudara-saudari, bila harus meratap, maka kemudian mari kita akhiri dan genapi dengan suatu nada pertobatan, pengharapan, dan pengakuan bahwa kasih setia TUHAN dan rahmat-Nya senantiasa lebih besar dan selalu baru tiap pagi laksana matahari terbit. Salam.***   aazs

wajah web201903

Login Form