Diberkati Supaya Menjadi Berkat!

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu IV Trinitatis, 5 Juli 2020

Diberkati Supaya Menjadi Berkat!

(Blessed To Be a Blessings)

(Kejadian 12:1-9)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Pada era kegelisahan ini karena dampak pandemi virus corona (covid-19) yang belum mereda, saya hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar yang saya hormati, di mana pun berada. Marilah kita tetap berpengharapan dan percaya akan penyertaan, pertolongan, dan belas-kasih TUHAN saat kita memasuki ‘era kenormalan baru’ (‘the new normal life’) di masa pandemi ini. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Yesus Kristus menyertai kita dengan penghiburan dari Roh Kudus. Marilah kita terus belajar bersyukur kepada TUHAN yang kita yakini terus bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita orang beriman pun dalam masa-masa sulit ini. Dengan rangkaian peristiwa ini, kita sedang menerima hikmah dan kesadaran yang baru  yang a.l., hendak mengajak kita supaya: semakin beriman, semakin rendah hati, semakin solider dan bermurah-hati, dan semakin berhati-hati dan peduli kesehatan serta lingkungan hidup.

Saudara-saudari, teks Alkitab yang menjadi dasar khotbah sekaligus renungan saat ini adalah dari Kitab Kejadian 12:1-9. Firman TUHAN kepada Abram (Abraham): "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. AKU akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau ... dan engkau akan menjadi berkat ... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Karena iman dan ketaatannya, maka pergilah Abram sesuai  Firman TUHAN (Kej. 12:1-4a).

            Alkitab mengungkap bahwa TUHAN Allah berinisiatif menawarkan ‘berkat dan keselamatan’ kepada umat melalui panggilan dan ketaatan Abraham sebagai prototipe orang beriman. Alkitab mencatat ‘kisah suci’ mengenai Abraham yang ‘lulus test setelah melewati proses tiga tahapan ujian iman. Karena iman dan ketaatannya, maka Abraham diberkati dan kemudian menjadi berkat kepada umat beriman karena belas-kasih TUHAN. Tiga proses tahapan ujian iman yang dimaksud adalah: (a) Pada saat ia meninggalkan daerah asalnya (Kej 12-25; Ibr. 11:8); (b) Pada waktu ia menerima janji mengenai keturunannya di  usia senja; dan (c) Pada saat ia mengurbankan Ishak, (Kej. 22:1-19; Ibr. 11:8-19). Tiga tahapan ujian iman memungkinkan Abraham mendapat berkat dari TUHAN dan menjadi berkat bagi umat bagi orang-orang beriman dengan  meninggalkan sejumlah teladan: 

(1) Karena iman maka Abraham taat pada perintah Allah dan pergi meninggalkan kota Ur di Kasdim (Mesopotamia Utara), kota modern pada masa itu, sebab kepadanya dijanjikan suatu kota yang jauh lebih indah, yang (hanya dapat) dilihat oleh ‘mata iman’ Abraham (Kej. 12:1-4). Karena itu, Abram bersedia hidup berkemah, diaspora (maisolat) sembari menanti pengangkatannya sebagai warga kota yang indah itu. Dalam awal panggilannya, bagi Abraham tidak berlaku motto vox populi vox Dei (‘suara rakyat suara TUHAN’). Bagi Abram, suara rakyat tidak selalu sama dengan suara Tuhan. Untuk mendapat berkat dan menjadi berkat, perlu ada “suatu pemisahan” dari hal-hal yang menghalangi terwujudnya berkat TUHAN.  

(2) Karena iman, maka Abraham tekun menanti kegenapan janji Allah mengenai keturunan di saat Abraham nyaris berusia 100 tahun dan Sarai, istrinya, yang sudah mati pucuk’, berusia hampir 90 tahun. Ketika Abraham dan Sarai merasakan keraguan dan ketidak-pastian, TUHAN setia menggenapi janji-Nya. Karena bagi TUHAN tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37). Setelah tiba waktunya, lahirlah Ishak sebagai kegenapan janji TUHAN. Ishak yang arti namanya adalah “tertawa” (Kej. 21). Kelahiran Ishak mirip kebangkitan dari kematian. Bukankah Ishak hadir ketika kemampuan alami orangtuanya sudah mati? Melalui Ishak, terpancarlah keturunan besar seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut (Kej. 15:5; 12:1-3; Ibr. 11:8-12). Karena iman dan ketaatan Abraham, maka kemudian orang-orang beriman yang dapat disebut sebagai “keturunan Abraham” jadinya mendapat berkat.

(3)  Karena iman, maka Abraham taat dan takut akan Allah serta tidak segan-segan  mempersembahkan Ishak, anaknya itu, kepada Allah (Kej. 22:8-12). Maka hati Allah pun terharu, dan kemudian “Allah yang menyediakan” (“Yehovah Jireh”) seekor domba jantan sebagai korban pengganti Ishak (Kej 22:8-12). Dalam Alkitab Perjanjian Baru diberitakan kemudian kegenapan ‘Yehovah Jireh’ ini ketika Allah sendiri yang menyediakan dan mengorbankan Anak tunggal-Nya - yaitu Yesus Kristus – di kayu salib sebagai korban pendamaian untuk menebus dosa umat manusia.   

                Saudara-saudari, Abraham – yang arti namanya adalah Allah Bapa telah ditinggikan - melalui cara hidupnya, Abraham jadinya disebut sebagai ‘sahabat Allah’ (2 Taw. 20:7; Yes. 41:8; Yak. 2:23); sebagai ‘bapa orang-orang percaya’ dan ‘bapa segala bangsa’ (Mat. 3:9; Yoh 8:33-39; Rm 3:27-4:25; Gal. 3:6-29; Ibr. 11:8-19). Abraham kemudian menjadi teladan bagi orang beriman  di lingkungan tiga agama monoteisme: Yahudi, Kristen, dan Islam.

            Dengan meneladani Abraham, marilah semakin beriman dan taat pada Firman TUHAN pun pada saat kita merasa ragu dan tidak pasti dalam pergumulan hidup kita di dunia ini, khususnya di era kecemasan dan penuh keraguan ini karena dampak pandemi virus corona (covid-19) yang belum ada vaksinnya. Di dalam TUHAN melalui peristiwa Yesus Kristus, semua janji kudus menemukan YA-nya. Karena Yesus Kristus adalah “Ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya, oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah (2 Kor. 1:20; Why. 3:14). Karena itu, jangan takut, sebagaimana yang Yesus katakan berulang-kali. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Tim 1:7). Yesus telah berjanji setia hendak menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir segenap zaman. Karena itu, marilah taat pada Firman Allah dan janji kudus-Nya yang memberi kita berkat supaya kemudian kita menjadi berkat bagi dunia. Dan inilah Visi Gereja kita yakni supaya HKBP Menjadi Berkat Bagi Dunia (HKBP Gabe Pasupasu tu Portibi on) melalui kata dan perbuatan yang baik dan benar,  semampu dan sekuat kita. TUHAN adalah jaminannya. Salam. *AAZS*   hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form